Oleh : A.Faisol (Direktur MediaLink)
Sisipublik.id Jakarta - Saya hanyalah satu dari ratusan ribu, atau bahkan jutaan orang, yang menyukai klub sepak bola Persebaya Surabaya. Itu pun kelasnya cuma "Bonek Layar Kaca"— sebuah istilah agak ngenyek tapi jujur untuk penggemar Persebaya yang modalnya cuma memelototi layar televisi di rumah atau warung kopi. Meskipun jarak saya dan lapangan hijau dibatasi kaca tabung atau layar datar, hari-hari ini hati saya ikut mak tratap dan sedih atas meninggalnya tokoh yang dituakan oleh Bonek: Cak Andie Peci. Saya tidak mengenal langsung beliau. Bertemu muka pun belum pernah babar blas. Tapi sebagai pencinta Persebaya, siapa toh yang tidak tahu kiprah Cak Andie saat memperjuangkan eksistensi Bajul Ijo yang sempat “dimatikan” oleh PSSI sepanjang 2010-2017 itu? Maka ndak heran, kabar berpulangnya Cak Andie langsung memenuhi lini masa media sosial, diratapi tidak hanya oleh warga hijau Surabaya, tapi juga dihormati oleh kelompok suporter klub lainnya.
Dari sekian banyak memori tentang Cak Andie yang berseliweran di layar gawai, ada satu tulisan yang nyangkut di kepala saya: sebuah obituari yang ditulis oleh Mas Zen RS di Pandit Football. Mas Zen menulis dengan nada liris, bahwa Andie Peci ini mengambil jalan yang sunyi. Lho, sampeyan jangan bingung dulu. Bagaimana bisa seorang pentolan suporter yang saban minggu akrab dengan gemuruh puluhan ribu nyanyian di tribun, dan akrab dengan pekik yel-yel buruh di depan pagar pabrik, kok disebut memilih jalan yang sunyi?
Justru di situlah letak kawicaksanan-nya, letak kearifannya seorang Andie Peci. Sunyi yang dimaksud Mas Zen adalah sunyi dari sorot lampu kamera dan syahwat panggung elitis. Cak Andie, dengan segala keras kepala dan peci hitamnya yang khas itu, memilih untuk luruh dan larut. Ia tidak genit ingin jadi anggota dewan yang terhormat. Ia ndak sibuk bikin LSM mentereng yang proposalnya harus dikirim ke luar negeri dengan bahasa Inggris yang meliuk-liuk. Ia memilih pekerjaan yang paling membosankan, paling melelahkan, tapi justru paling fundamental dalam sejarah peradaban kita: mengorganisir dan mendidik.
Menghidupkan kesadaran politik buruh dan suporter itu bukan perkara gampang, lho. Itu bukan seperti bikin mi instan atau bikin status di media sosial yang dalam lima menit langsung dapat ribuan likes. Itu adalah kerja kebudayaan yang telaten. Mengajak buruh memahami hak-haknya, atau merangkul anak-anak muda di tribun agar tidak sekadar hobi jotosan tapi punya solidaritas sosial, itu adalah kerja menyemai benih. Anda harus mau ikut kepanasan, ikut batuk-batuk kena gas air mata, dan yang paling penting: mau mendengarkan keluh kesah mereka yang paling wagu sekalipun. Ndilalah, bacaan Mas Zen RS tentang Cak Andie ini kok ya pas banget dengan kondisi tontonan politik kita sekarang. Coba saja tengok televisi atau baca pelataran media sosial belakangan ini. Isinya kok ya ndak jauh-jauh dari tontonan orang bersolek. Ada politisi yang sibuk mematut diri di depan kaca, ada aktivis yang mendadak puitis di panggung seminar bergengsi, dan ada pula para intelektual kita yang asyik masyuk berdebat tentang teori-teori tinggi di ruangan ber-AC yang wangi. Mereka menari dengan begitu rancak, begitu elitis, tapi ya itu… kaki mereka agak gantung. Ndak menginjak bumi. Jauh benar dari bau keringat orang-orang yang mereka sebut "rakyat" itu.
Lucunya—atau getirnya—kita hari ini disuguhi drama siklus yang aneh: mantan aktivis mahasiswa yang sekarang sudah jadi pejabat dindas-dindis, yang dulu lantang berteriak revolusi, sekarang gantian didemo oleh mahasiswa yang meneriakkan kata "revolusi" tepat di mukanya. Lalu di media sosial, keriuhan berlanjut dengan perang narasi saling tuduh siapa yang paling tidak memihak rakyat. Gusti, jepret-jepretan elitis kok ya ndak habis-habis. Langkah konkret Cak Andie Peci inilah yang sebetulnya sedang absen dari kehidupan politik kita hari ini. Para aktivis mahasiswa kita, NGO kita, bahkan politisi muda kita, sering kali mengidap penyakit "kepengin cepat kondang". Mereka lebih senang berorasi di mimbar yang tinggi, atau berdebat kusir di jagat maya, ketimbang duduk lesahan di warung kopi bersama buruh kontrak yang bingung besok mau makan apa. Mereka lupa bahwa politik tanpa basis massa yang tercerahkan itu hanyalah seperti layang-layang putus: kelihatan gagah terbang tinggi, tapi sebetulnya rapuh dan arahnya cuma ditentukan oleh ke mana angin berembus.
Apa yang ditinggalkan oleh Andie Peci adalah sebuah cermin besar yang agak buram bagi kita semua. Sebuah teguran halus namun menampar: “Bung, kembali ke akar. Kembali ke bumi.” Pendidikan politik yang sejati itu tidak terjadi di hotel berbintang lima saat merumuskan rekomendasi kebijakan demi serapan anggaran. Pendidikan politik itu terjadi saat kita mampu membuat masyarakat kelas bawah sadar akan harkat dan martabatnya sebagai warga negara, lalu bersama-sama mengorganisir diri untuk menuntut keadilan.
Cak Andie Peci telah purna tugas, melangkah menuju keabadian yang sejati. Ia mungkin tidak meninggalkan warisan berupa ruko, mobil mewah, atau piagam penghargaan dari pejabat teras. Tapi di sela-sela mesin pabrik yang menderu dan di sudut-sudut tribun yang menyanyikan lagu kemenangan, namanya akan terus hidup sebagai sebuah teladan. Sebuah jalan sunyi yang, gusti, mestinya harus buru-buru ramai-ramai kita tapaki kembali.
Sugeng tindak, Cak Andie. Izinkan kami yang masih tertinggal di panggung yang bising ini, belajar kembali cara menginjak bumi.


