Seri Mereka yang Terlupakan Sejarah
Jakarta. Sisipublik.id - Dalam sejarah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, nama Suhud Sastro Kusumo sering disebut berdampingan dengan Latief Hendraningrat sebagai pengibar Sang Saka Merah Putih pada 17 Agustus 1945. Berbeda dengan Latief yang merupakan seorang perwira PETA, Suhud adalah seorang pemuda biasa yang pada saat-saat genting tersebut tampil membantu proses pengibaran bendera Merah Putih. Perannya mungkin tampak sederhana, tetapi tanpa bantuannya, prosesi pengibaran bendera pada pagi bersejarah itu tidak akan berlangsung sebagaimana yang dikenang hingga hari ini.
Latar Belakang Sebagai Pemuda Perjuangan
Informasi mengenai kehidupan awal Suhud Sastro Kusumo memang tidak sebanyak tokoh-tokoh utama Proklamasi. Berbagai sumber sejarah mencatat bahwa ia lahir di Jakarta sekitar tahun 1920, namun data mengenai tanggal lahir, pendidikan, dan kehidupan keluarganya masih sangat terbatas. Keterbatasan ini menunjukkan bahwa banyak pelaku lapangan dalam sejarah kemerdekaan belum terdokumentasi secara lengkap. Pada masa pendudukan Jepang, Suhud dikenal sebagai pemuda yang aktif membantu berbagai kegiatan yang berkaitan dengan perjuangan kemerdekaan. Ia juga memiliki hubungan baik dengan para anggota PETA dan kelompok pemuda yang mengawal jalannya proklamasi. Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu pada 15 Agustus 1945, situasi Jakarta dipenuhi ketidakpastian. Para pemuda bergerak cepat mengawal proses menuju Proklamasi. Suhud termasuk di antara mereka yang siap membantu setiap kebutuhan teknis demi kelancaran acara yang akan dilaksanakan di rumah Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56. Tidak ada latihan resmi maupun protokol kenegaraan. Semua persiapan dilakukan secara sederhana, dengan semangat gotong royong dan kesadaran bahwa Indonesia sedang memasuki babak baru sejarahnya.
Perannya dalam Pengibaran
Pagi hari 17 Agustus 1945, setelah Soekarno selesai membacakan teks Proklamasi, tibalah saat pengibaran bendera Merah Putih yang dijahit oleh Fatmawati. Semula, Latief Hendraningrat meminta bantuan seorang pemuda yang berada di lokasi untuk mendampinginya. Pemuda itu adalah Suhud Sastro Kusumo. Bersama-sama mereka membawa bendera menuju tiang bambu yang telah dipersiapkan. Dalam prosesi tersebut, Latief Hendraningrat bertugas mengikat dan menaikkan bendera, sedangkan Suhud membantu memegang, membentangkan, dan memastikan kain Merah Putih tidak menyentuh tanah selama proses pengibaran. Ketika bendera perlahan naik ke puncak tiang, para hadirin secara spontan menyanyikan lagu "Indonesia Raya" tanpa iringan musik. Walaupun hanya berlangsung beberapa menit, prosesi itu menjadi salah satu momen paling sakral dalam sejarah Indonesia.
Pengabdian Pascakemerdekaan
Setelah Proklamasi, Suhud tetap mengabdikan diri kepada Republik Indonesia yang baru berdiri. Namun, berbeda dengan beberapa tokoh Proklamasi lainnya, ia tidak banyak tampil dalam dunia politik maupun pemerintahan. Sebagian besar hidupnya dijalani sebagai warga negara yang terus mendukung pembangunan bangsa. Namanya lebih dikenal melalui perannya pada 17 Agustus 1945 dibandingkan jabatan-jabatan publik yang pernah diembannya. Dalam berbagai peringatan Hari Kemerdekaan, nama Suhud Sastro Kusumo selalu disebut bersama Latief Hendraningrat sebagai pengibar pertama Sang Saka Merah Putih. Meskipun tidak memperoleh sorotan sebesar tokoh-tokoh utama Proklamasi, kontribusinya tetap diakui sebagai bagian penting dari rangkaian peristiwa lahirnya Republik Indonesia.
Dalam perspektif sejarah sosial, peran Suhud memiliki makna yang besar. Ia mewakili ribuan pemuda Indonesia yang bekerja di balik layar dan tidak selalu memperoleh tempat dalam narasi sejarah resmi. Kehadirannya pada pagi 17 Agustus 1945 menunjukkan bahwa kemerdekaan Indonesia bukan hanya hasil perjuangan para pemimpin besar, tetapi juga lahir dari partisipasi masyarakat biasa yang bersedia mengambil tanggung jawab pada saat-saat paling menentukan. Suhud Sastro Kusumo layak dikenang sebagai salah satu putra bangsa yang turut mengabadikan detik-detik kelahiran Republik Indonesia. Dengan mendampingi pengibaran Sang Saka Merah Putih untuk pertama kalinya, ia telah menjadi bagian dari simbol kedaulatan yang hingga kini terus dihormati oleh seluruh rakyat Indonesia.




