Komunikasi A la Retorika Revolusioner
Sejarah Indonesia menunjukkan bahwa komunikasi politik tidak pernah berdiri sendiri; ia selalu mengikuti tantangan zamannya. Pada era Soekarno, ketika revolusi menjadi napas kehidupan berbangsa, komunikasi politik tampil dalam bentuk retorika yang penuh semangat, simbolisme, dan ajakan kolektif. Kata-kata bukan sekadar penyampai pesan, melainkan instrumen untuk membangun bangsa dan mengonsolidasikan kekuatan politik.
JAKARTA. sisipublik.id - Sejarah politik Indonesia tidak dapat dipisahkan dari sejarah komunikasi politiknya. Setiap rezim memiliki cara tersendiri dalam membangun hubungan antara negara dan rakyat. Namun, tidak ada periode yang memperlihatkan dominasi komunikasi politik sekuat era Presiden Soekarno. Pada masa inilah komunikasi menjadi instrumen utama dalam membangun negara, mengonsolidasikan identitas nasional, serta memperoleh legitimasi politik di tengah dinamika revolusi dan perubahan geopolitik dunia. Berbeda dengan pemimpin-pemimpin setelahnya yang memanfaatkan televisi, internet, atau media sosial, Soekarno hidup pada masa ketika pidato, radio, surat kabar, dan pertemuan akbar menjadi medium utama komunikasi publik.
Keterbatasan teknologi justru melahirkan bentuk komunikasi yang sangat personal, emosional, dan ideologis. Soekarno menjadikan dirinya bukan sekadar kepala negara, melainkan narator utama perjalanan bangsa Indonesia. Dalam perspektif ilmu komunikasi, Soekarno dapat dipahami sebagai komunikator politik yang memiliki ethos (kredibilitas), pathos (kemampuan membangkitkan emosi), dan logos (argumentasi) secara bersamaan. Konsep retorika klasik yang diperkenalkan Aristoteles tampak jelas dalam hampir seluruh pidato politiknya. Ia bukan hanya menyampaikan kebijakan, melainkan membangun makna, simbol, dan harapan kolektif
Semangat Membangun Nation Building
Kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945 tidak otomatis melahirkan bangsa yang utuh. Indonesia masih terdiri atas masyarakat dengan latar belakang etnis, bahasa, agama, dan tingkat pendidikan yang sangat beragam. Dalam kondisi demikian, komunikasi politik menjadi instrumen utama untuk membentuk kesadaran nasional.
Harold D. Lasswell merumuskan komunikasi melalui pertanyaan: Who says what, in which channel, to whom, and with what effect? Dalam konteks Indonesia awal kemerdekaan, jawaban atas pertanyaan tersebut hampir selalu mengarah pada figur Soekarno.
Soekarno adalah komunikator utama negara, menyampaikan pesan tentang nasionalisme dan revolusi melalui radio, mimbar politik, serta surat kabar kepada rakyat Indonesia dengan tujuan membangun loyalitas terhadap negara yang baru berdiri. Komunikasi politik Soekarno bukan sekadar menyampaikan informasi pemerintahan. Ia menciptakan narasi besar (grand narrative) bahwa Indonesia merupakan bangsa yang memiliki misi sejarah untuk membebaskan diri dari kolonialisme dan membangun masyarakat yang berdaulat. Dengan demikian, komunikasi menjadi bagian dari proses nation building.***



