Sisi Utama

Efek Chilling Demokrasi di Era Prabowo Gibran

Banyak pihak mensinyalir era Prabowo-Gibran ini menjadi era penuh ancaman bagi demokrasi, khususnya dalam hal pemenuhan kebebasan sipil?

9 Juli 20269 Kali Dilihat
Oleh: MG
Prabowo dan Gibran

Kredit: BBC News

Terpilihnya Prabowo-Gibran sebagai pemenang pemilu membawa tanda tanya besar terkait masa depan demokrasi di Indonesia. Ada pihak yang optimis, pemerintahan baru ini akan melanjutkan nilai-nilai baik berdemokrasi era pemerintahan sebelumnya. Namun tak sedikit yang meragukan bahkan mengkhawatirkan kalau demokrasi di era pemerintahan Prabowo-Gibran ini dalam ancaman hebat, khususnya dalam pemenuhan hak-hak kebebasan masyarakat sipil. Di era Prabowo-Gibran, disiplin dan kontrol menjadi kata kunci yang membatasi ruang kritis. Kritik yang seharusnya bagian dari evaluasi publik kini dianggap ancaman. Kekhawatiran tersebut beralasan. Mengingat banyak tindak aparat yang lebih mengedepankan aspek resfresif dalam menghadapi kritikan masyarakat.  Sebut saja kasus seorang warganet yang mengunggah video menu Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan menyebut sebagai menu bergizi dengan nada sinis.

Caption dan foto yang diunggah warganet yang menyebut menu  jeruk, singkong goreng, tahu bakso tersebut ternyata berbuntut panjang. Pihak SPPG yang merasa dirugikan dengan laporan tersebut pun membawanya ke ranah hukum dengan membuat laporan ke pihak kepolisian. Pilihannya pun jelas. Kalau ingin aman, yang bersangkutan harus mentake down unggahannya tersebut.

Menurut Ray Rangkuti, tindak aparat yang refresif tersebut merupakan bentuk teror terhadap kebebasan sipil. ”Seharusya, pihak SPPG atau pemerintah menjadikan laporan masyarakat tersebut sebagai bahan evaluasi untuk perbaikan program mendatang,” ujar Direktur Lingkar Madani (LIMA) ketika dihubungi sisipublik.id.  Ray menegaskan bahwa tidak refresif pemerintah tak hanya ditunjukan dalam program MBG semata, namun dalam program-program unggulan Prabowo-Gibran lainnya seperti Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan Kampung Nelayan Merdeka (KNM).

Akibat represifitas aparat yang berlebihan, membuat citra pemerintahan Prabowo-Gibran ini menjadi kurang simpatik dalam menegakan hak-hak berdemokrasi. “Masyarakat pun menjadi malas dan takut untuk bersuara apalagi berpartisipasi karena tidak aparat yang terlalu intimidasi,” lanjut Ray. Tak hanya Ray Rangkuti, aktivis demokrasi lainnya juga bersuara senada. Saiful Muzani misalnya, menilai bahwa kepemimpinan Prabowo cenderung tidak lagi presidensial, tidak bisa dinasihati, sikap otoriter yang mengancam demokrasi.

“Setiap gerakan kritik atau upaya untuk perbaikan selalu di stigmatisasi jelek. Harusnya Prabowo menjadikan kritikan sebagai bahan evaluasi dan bukannya direspon dengan intimidasi hukum atau kekerasan,” papar Saiful Muzani dalam sebuah kesempatan.

Keduanya menilai tindakan pemerintahan melalui aparat penegak hukum dan keamanan menciptakan efek takut di masyarakat, sehingga membuat publik pun enggan untuk bersuara karena dampak keamanan dan keselamatan.

Efek Chilling, Betulkah Terjadi?
Ray Rangkuti menilai, bila kondisi seperti ini berlarut, maka bukan mustahil akan menciptakan kondisi chilling dalam demokrasi kita. “Lihat saja, sebelum demo mahasiswa massif seperti sekarang. Mana ada masyarakat yang berani mengkritik, bahkan di dunia maya sekali pun,” tegasnya.

Aparat penegak hukum dan keamanan pun membuat upaya berlapis agar masyarakat tidak berani bersuara dalam mengkritik program-program pemerintah. Rasa takut dan kuatir di masyarakat menggantikan keberanian karena adanya potensi ancaman. Masyarakat belajar untuk diam, menahan diri, dan menghindari topik sensitif. Demokrasi, lambat laun, tersedak ketakutan dan inilah yang disebut sebagai efek chilling dalam demokrasi.

Efek chilling dalam demokrasi menjadi ancaman karena tanpa partisipasi aktif warga, pejabat publik dan lembaga bisa berjalan tanpa kontrol. Transparansi menjadi jargon kosong, dan demokrasi formal hadir hanya sebagai ilusi kebebasan. Yang paling mengerikan, efek chilling bukan hanya meredam kritik. Ia juga mengubah perilaku masyarakat, mengajarkan kepatuhan pasif sebagai norma, dan menanamkan rasa takut sebagai filter utama komunikasi publik.

Tapi benarkah terjadi efek chilling dalam demokrasi di era Prabowo-Gibran? Menteri Agama Nasarudin Umar membantah pernyataan bahwa di era Prabowo-Gibran ini telah terjadi tindak represifitas dalam demokrasi. 

“Masyarakat masih bebas kok menyatakan pendapat dan kritiknya kepada pemerintah. Ini bisa kita lihat apakah ada larangan pemerintah untuk masyarakat menyatakan kritikannya baik di dunia nyata atau pun media sosial. Semua masih aman-aman saja kok,” ujar Nasarudin Umar kepada wartawan (15/6).

Menurut Nasarudin Umar, hingga saat ini pemerintah mendorong "demokrasi khas" yang menekankan kesantunan dan musyawarah. “Masyarakat masih bisa menyampaikan kritikan dan pendapatnya, namun harus disampaikan dalam koridor yang tidak melanggar hukum dan norma-norma kesponan,” tambahnya.

Nasarudin Umar mencontohkan, kritikan yang seharusnya disampaikan masyarakat kepada pemerintah seharusnya tetap beretika dan tidak mengandung unsur penghinaan atau kekerasan.

“Tujuan baik itu harus disampaikan dengan baik dan santun, bukan dengan cara caci maki atau hinaan kepada pemerintah,” sambungnya.

Lantas bagaimana agar hak-hak berdemokrasi tetap berjalan dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sebagai pengguna hak-hak tersebut dan pemerintah sebagai penjaga hak-hak demokrasi bisa berjalan beriringan?

Kedua pihak harus sepakat menciptakan demokrasi dialogis, di mana kedua dapat duduk bersamaan, menciptakan persepsi yang senada, dan tentu saja mencari solusi untuk kebaikan bersama. Pemerintah dan masyarakat harus sadar dengan posisi dan perannya, sehingga di antara keduanya tercipta etika dalam berdemokrasi.***

Artikel Terkait

Menunggu Berujung Duka

Menunggu Berujung Duka

Artikel ini mengulas secara mendalam tragedi wafatnya almarhum Yurizal Tri Chaerawan pasca curhat penantian 8 jam di IGD yang justru berbalas perundungan oleh oknum nakes. Bagaimana kebijakan politik JKN yang kaku sering kali diterjemahkan menjadi tekanan fisik dan mental bagi tenaga medis, yang berujung pada hilangnya empati terhadap rakyat kecil. Sebuah urgensi bagi pemerintah untuk tidak hanya mengaudit teknis rumah sakit, tetapi juga memperhatikan kesejahteraan psikologis nakes demi menjaga marwah kode etik kedokteran.

7 Agu 2026
Setahun Sekolah Rakyat, Ambisi Besar Tapi Kacau Tata Kelola

Setahun Sekolah Rakyat, Ambisi Besar Tapi Kacau Tata Kelola

Artikel ini mengulas perjalan satu tahun Sekolah Rakyat yang berada di antara visi filantropis memutus kemiskinan dan risiko ekspansi ugal-ugalan. Di balik ambisi menjangkau 500 sekolah, program ini menghadapi tantangan krisis guru, fasilitas transisional, hingga potensi kebocoran anggaran triliunan rupiah.

6 Agu 2026
Membaca Statemen Prabowo Soal Nuklir Dalam Lanskap Politik Global

Membaca Statemen Prabowo Soal Nuklir Dalam Lanskap Politik Global

Analisis terhentinya siaran langsung pidato Presiden Prabowo Subianto dan kaitannya dengan dinamika geopolitik global. Dari status nuklir Iran hingga lonjakan yield SBN, ketegangan Timur Tengah kini berdampak langsung pada stabilitas ekonomi serta daya beli masyarakat Indonesia.

5 Agu 2026
Ketika Manusia Menjadi Konten

Ketika Manusia Menjadi Konten

Tidak ada yang menyangka bahwa percakapan singkat di sebuah stan pameran otomotif dapat berubah menjadi perdebatan nasional mengenai etika, privasi, dan masa depan masyarakat digital Indonesia.

4 Agu 2026