Sisi Daerah

Ketika Pohon Tumbang, Kota Kehilangan Jiwanya

Kota tidak mati ketika gedung-gedungnya runtuh. Kota mulai kehilangan kehidupan ketika pohon-pohonnya satu per satu menghilang

6 Agustus 20261 Kali Dilihat
Oleh: Leqom
Pohon Tumbang

Kredit: Kompas.com

JAKARTA.Sisipublik.id Pagi itu Bandung tetap bergerak seperti biasa. Kendaraan memenuhi ruas-ruas jalan, para pekerja bergegas menuju kantor, dan pedagang membuka lapak di trotoar. Namun, ada yang terasa berbeda. Langit tampak lebih lapang dari biasanya. Bukan karena awan sedang menipis, melainkan karena deretan pohon yang selama puluhan tahun menaungi jalan telah tiada. Batang-batang besar yang dahulu menjadi pelindung pejalan kaki kini tinggal tunggul. Ranting-ranting yang biasanya menjadi tempat burung bertengger telah berubah menjadi potongan kayu. Di bawah terik matahari, trotoar yang sebelumnya teduh mendadak terasa lebih panas. Pemandangan itu memicu kemarahan warga. Media sosial dipenuhi foto, video, dan pertanyaan: mengapa pohon-pohon itu ditebang?

Barangkali ada yang menganggap reaksi publik berlebihan. Bukankah pohon bisa ditanam kembali? Bukankah pembangunan membutuhkan ruang? Namun, sesungguhnya kemarahan warga Bandung bukan semata-mata karena beberapa batang pohon hilang. Yang mereka rasakan adalah hilangnya sesuatu yang selama ini menjadi identitas kota. Bandung sejak lama dikenal sebagai Kota Kembang. Julukan itu bukan sekadar romantisme masa lalu. Kota ini dibangun dengan lanskap yang dipenuhi pepohonan, taman, dan jalan-jalan rindang. Pepohonan bukan hanya elemen estetika, tetapi bagian dari sejarah. Di bawah naungannya orang berjalan kaki, anak-anak bermain, pedagang mencari nafkah, mahasiswa berdiskusi, dan keluarga menikmati sore hari. Pohon menjadi saksi bisu perjalanan sebuah kota.

Karena itu, ketika pohon ditebang, yang hilang bukan hanya batang dan daun. Yang ikut hilang adalah memori kolektif. Sebuah kota sesungguhnya tidak dibangun hanya oleh beton, baja, dan aspal. Kota dibentuk oleh pengalaman warganya. Aroma tanah setelah hujan, suara burung di pagi hari, serta bayangan rindang pepohonan adalah bagian dari pengalaman itu. Semua itulah yang perlahan menghilang ketika ruang hijau terus menyusut. Ironisnya, peristiwa di Bandung terjadi ketika dunia sedang menghadapi ancaman perubahan iklim. Gelombang panas semakin sering melanda kota-kota besar. Curah hujan ekstrem memicu banjir. Kualitas udara memburuk. Dalam situasi seperti itu, pohon bukan lagi sekadar penghias jalan. Ia adalah infrastruktur kehidupan. Satu pohon dewasa mampu menyerap karbon dioksida, menghasilkan oksigen, menurunkan suhu lingkungan, menyimpan air hujan, mengurangi polusi udara, hingga meredam kebisingan. Kanopi pohon membuat pejalan kaki merasa nyaman, mendorong orang menggunakan transportasi publik, sekaligus meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Semua manfaat itu diberikan tanpa tagihan listrik, tanpa biaya operasional yang mahal, dan tanpa meminta imbalan apa pun. Sayangnya, logika pembangunan di banyak kota di Indonesia masih sering memandang pohon sebagai hambatan. Ketika jalan diperlebar, pohon ditebang. Ketika kabel dipasang, pohon dipangkas habis. Ketika proyek dimulai, ruang hijau menjadi korban pertama.

Pohon diperlakukan seolah benda mati yang dapat dipindahkan sesuka hati, padahal membutuhkan puluhan tahun untuk tumbuh menjadi peneduh yang utuh. Lebih menyedihkan lagi, penebangan pohon kerap dibenarkan atas nama kemajuan. Seolah-olah pembangunan dan pelestarian lingkungan tidak mungkin berjalan berdampingan. Padahal, banyak kota di dunia telah membuktikan sebaliknya. Singapura menjadikan pepohonan sebagai bagian dari identitas kotanya. Melbourne memiliki kebijakan inventarisasi pohon lengkap sehingga setiap pohon memiliki data kesehatan dan riwayat perawatannya. Seoul bahkan mengembalikan ruang hijau di kawasan yang sebelumnya didominasi beton sebagai strategi meningkatkan kualitas hidup warga.

Identitas Perlahan Luntur

Bandung sebenarnya memiliki modal yang sama. Kota ini dikenal karena iklimnya yang sejuk dan lanskap hijaunya. Namun, identitas itu akan perlahan hilang jika setiap proyek pembangunan selalu dibayar dengan tumbangnya pohon-pohon tua. Menanam bibit baru memang penting, tetapi bibit itu membutuhkan puluhan tahun untuk memberikan manfaat yang sama. Tidak ada jalan pintas menggantikan keteduhan yang dibangun oleh waktu. Polemik penebangan pohon juga mengajarkan satu hal penting: masyarakat kini semakin sadar bahwa ruang hijau adalah hak publik. Warga tidak lagi melihat pohon hanya sebagai tanaman, melainkan sebagai bagian dari kualitas hidup mereka. Setiap keputusan yang menyangkut pohon di ruang publik semestinya dilakukan secara terbuka, berdasarkan kajian ilmiah, dan melibatkan partisipasi masyarakat. Transparansi bukan sekadar memenuhi prosedur, tetapi bentuk penghormatan terhadap hak warga atas lingkungan yang sehat. Pada akhirnya, ukuran kemajuan sebuah kota tidak hanya dilihat dari banyaknya jalan layang, gedung pencakar langit, atau pusat bisnis yang berdiri megah. Kota yang benar-benar maju adalah kota yang tetap memberi ruang bagi manusia untuk bernapas, berjalan kaki dengan nyaman, mendengar suara burung, dan berteduh di bawah pohon yang usianya mungkin lebih tua daripada para penghuninya.

Mungkin beberapa pohon memang telah tumbang. Namun, yang jauh lebih penting adalah memastikan bahwa nurani ekologis kota tidak ikut tumbang bersamanya. Sebab, ketika pohon terakhir hilang dari jalan-jalan kota, yang sesungguhnya sedang kita hilangkan bukan sekadar ruang hijau. Kita sedang kehilangan cara memandang kehidupan itu sendiri. Pembangunan yang baik bukanlah pembangunan yang menaklukkan alam, melainkan pembangunan yang belajar hidup berdampingan dengannya. Sebab, kota yang mengorbankan pohonnya demi mengejar kemajuan bisa saja tampak modern dari kejauhan. Namun, bagi mereka yang hidup di dalamnya, kota itu perlahan berubah menjadi tempat yang semakin panas, semakin keras, dan semakin asing. Bandung masih memiliki kesempatan untuk memilih jalan yang berbeda. Menjadikan polemik ini sebagai titik balik, bukan sekadar kontroversi sesaat. Sebab, sejarah akan lebih mengingat kota yang berhasil menjaga pohonnya daripada kota yang hanya berhasil membangun gedung-gedung tinggi. Pada akhirnya, masa depan sebuah kota tidak hanya ditentukan oleh apa yang dibangunnya, tetapi juga oleh apa yang dipilihnya untuk tetap dipertahankan.

Artikel Terkait

Waspada! Dampak Bibit Siklon 94W, Kota Padang Dilanda Banjir Besar dan Arus Deras Hanyutkan Kendaraan

Waspada! Dampak Bibit Siklon 94W, Kota Padang Dilanda Banjir Besar dan Arus Deras Hanyutkan Kendaraan

Kota Padang, Sumatera Barat, mengalami bencana banjir besar pada Senin, 3 Agustus 2026, akibat hujan ekstrem berdurasi panjang (selama 6 jam berturut-turut). Bencana ini merendam ribuan rumah warga di sedikitnya 15 titik utama dan menyebabkan kendaraan hanyut terbawa derasnya arus air di jalan-jalan protokol.

5 Agu 2026
Heat Pump Buktikan Dekarbonisasi Industri Bisa Untungkan Bisnis, SETI Dorong Replikasi di Berbagai Sektor

Heat Pump Buktikan Dekarbonisasi Industri Bisa Untungkan Bisnis, SETI Dorong Replikasi di Berbagai Sektor

Teknologi heat pump membuktikan bahwa dekarbonisasi industri di Indonesia tidak lagi sebatas target jangka panjang, melainkan solusi yang dapat diterapkan saat ini. Melalui proyek Sustainable Energy Transition in Indonesia (SETI), implementasi heat pump menunjukkan bahwa efisiensi energi mampu berjalan beriringan dengan penghematan biaya produksi dan penurunan emisi karbon.

4 Agu 2026
Antara Slogan dan Lumpur, Menakar Harga Kedaultan di Jantung Krayan

Antara Slogan dan Lumpur, Menakar Harga Kedaultan di Jantung Krayan

Warga perbatasan dipaksa bertaruh nyawa di jalanan lumpur hanya untuk menyampaikan aspirasi. Sebuah ulasan kritis tentang kegagalan birokrasi, tingginya "Pajak Perbatasan", dan mengapa perbaikan jalan Krayan adalah harga mati bagi integritas bangsa.

3 Agu 2026
Menembus Darurat Sampah Bantargebang: dari Tragedi Longsor Menuju Paradigma Pengelolaan Hilir

Menembus Darurat Sampah Bantargebang: dari Tragedi Longsor Menuju Paradigma Pengelolaan Hilir

Tragedi longsor Bantargebang Maret 2026 menjadi titik balik pengelolaan sampah Jakarta. Pelajari bagaimana Pemprov DKI bertransisi dari open dumping menuju controlled landfill dan teknologi modern tanpa mengabaikan aspek kemanusiaan.

29 Jul 2026