Namanya mungkin tidak sepopuler tokoh politik atau figur publik yang setiap hari menghiasi layar televisi. Namun dalam lingkungan penegakan hukum dan keamanan nasional, Marthinus dikenal sebagai sosok yang tumbuh dari kultur kerja yang mengutamakan ketelitian, kesabaran, dan keberanian mengambil keputusan pada situasi yang tidak mudah. Pagi itu, suasana Istana Negara berlangsung khidmat. Di hadapan Presiden, seorang perwira polisi mengucapkan sumpah jabatan sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN).
Bagi publik, momen itu mungkin hanya pergantian pejabat biasa. Namun bagi Marthinus Hukom, perjalanan menuju kursi tersebut adalah kisah panjang tentang pengabdian, risiko, dan operasi-operasi yang berlangsung jauh dari sorotan kamera. Lahir pada 30 Januari 1969 di Ameth, Pulau Nusalaut, Maluku Tengah, Marthinus tumbuh jauh dari hiruk-pikuk ibu kota. Tumbuh di wilayah sederhana dan jauh dari pusat kekuasaan membentuk cara pandangnya tentang arti kerja keras dan ketekunan. Di tempat asalnya, keberhasilan bukanlah sesuatu yang datang secara instan. Ia harus diperjuangkan sedikit demi sedikit.
Dari pulau kecil di timur Indonesia itu, ia kemudian menempuh pendidikan di Akademi Kepolisian dan lulus pada 1991, satu angkatan dengan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Ketika memutuskan masuk Akademi Kepolisian, jalan hidupnya mulai berubah. Dunia kepolisian membawanya berhadapan dengan berbagai persoalan yang jauh lebih kompleks daripada yang pernah ia bayangkan. Dari kriminalitas, konflik sosial, hingga ancaman keamanan negara. Namun karier Marthinus tidak dibangun melalui popularitas. Ia lebih banyak bekerja di bidang yang menuntut kemampuan membaca situasi, mengumpulkan informasi, dan menyusun strategi. Bidang yang sering kali tidak menghasilkan pujian, tetapi memiliki dampak besar bagi keselamatan banyak orang.
Di kalangan rekan kerja, ia dikenal sebagai pribadi yang tidak banyak bicara. Baginya, hasil kerja lebih penting daripada pencitraan. Karakter seperti itu membuatnya dipercaya menempati berbagai posisi strategis dalam institusi kepolisian.
Berkarir Dalam Senyap
Perjalanan kariernya juga menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak selalu lahir dari sosok yang paling keras suaranya. Dalam banyak kesempatan, kepemimpinan justru muncul dari kemampuan mendengar, menganalisis, dan mengambil keputusan pada saat yang tepat. Kariernya tidak langsung berada di panggung utama. Ia memulai perjalanan sebagai penyidik dan analis intelijen. Namun namanya mulai dikenal ketika terlibat dalam berbagai operasi pemberantasan terorisme yang menjadi tantangan besar Indonesia pasca-Bom Bali.
Di lingkungan Densus 88, Marthinus dikenal sebagai sosok yang kuat dalam bidang investigasi dan intelijen. Bagi sebagian anggota kepolisian, pekerjaan intelijen berarti bekerja dalam senyap. Keberhasilan sering kali tidak terlihat publik, sementara kegagalan dapat berujung pada ancaman keselamatan. Dalam berbagai operasi antiteror, Marthinus dan timnya disebut terlibat dalam penangkapan sejumlah pelaku terorisme kelas kakap, termasuk Ali Imron dan jaringan pelaku Bom Bali. Pengalaman itu membentuk reputasinya. Dari Kepala Tim Anti Teror Bom Polda Metro Jaya, analis intelijen, Kepala Bidang Intelijen Densus 88, Wakil Kepala Densus 88, hingga akhirnya dipercaya memimpin Densus 88 pada 2020. Setiap jabatan menjadi batu loncatan menuju tanggung jawab yang lebih besar.
Menantang Dunia Narkotika
Namun tantangan berikutnya ternyata berbeda. Pada akhir 2023, pemerintah menunjuk Marthinus sebagai Kepala BNN. Jika sebelumnya ia berhadapan dengan jaringan terorisme, kini lawannya adalah peredaran narkotika yang menjangkau hampir seluruh wilayah Indonesia. Di bawah kepemimpinannya, perhatian publik tertuju pada pendekatan BNN yang tidak hanya menekankan penindakan, tetapi juga pencegahan. Baginya, perang melawan narkoba tidak cukup dilakukan dengan penangkapan semata. Kesadaran masyarakat harus dibangun agar generasi muda tidak masuk ke dalam lingkaran penyalahgunaan narkotika.
Ketika akhirnya dipercaya memimpin Badan Narkotika Nasional, tantangan yang dihadapi tidaklah ringan. Peredaran narkotika telah menjangkau berbagai lapisan masyarakat. Ancamannya tidak hanya menyasar kota besar, tetapi juga desa-desa, lingkungan pendidikan, hingga keluarga. Bagi Marthinus, persoalan narkotika bukan semata urusan hukum. Ia melihatnya sebagai ancaman terhadap masa depan bangsa. Karena itu, pemberantasan narkoba tidak cukup dilakukan dengan operasi penangkapan. Pencegahan, edukasi, dan kesadaran masyarakat menjadi bagian yang sama pentingnya.
Di tengah tugas yang berat, ia tetap menyadari bahwa tidak semua keberhasilan dapat diukur dengan angka penangkapan atau jumlah barang bukti yang disita. Ada keberhasilan yang tidak terlihat: ketika seorang remaja memilih menjauhi narkoba, ketika sebuah keluarga berhasil mempertahankan masa depan anak-anaknya, atau ketika masyarakat mulai peduli terhadap lingkungan sekitarnya. Kisah Marthinus Hukom pada akhirnya bukan hanya tentang seorang pejabat negara. Ini adalah cerita mengenai bagaimana seseorang dari daerah yang jauh dari pusat perhatian dapat mencapai posisi penting melalui kerja keras, disiplin, dan konsistensi.
Dalam era ketika banyak orang berlomba menjadi pusat perhatian, Marthinus menunjukkan jalan yang berbeda. Ia membangun karier bukan dengan membuat dirinya terlihat, melainkan dengan memastikan pekerjaannya memberi manfaat bagi orang banyak. Mungkin itulah alasan mengapa perjalanan hidupnya layak dicatat. Bukan karena jabatan yang kini ia sandang, melainkan karena proses panjang yang mengantarkannya ke sana. Meski telah mencapai posisi puncak, kisah Marthinus Hukom tetap menyimpan pesan sederhana: bahwa perjalanan dari sebuah pulau kecil di Maluku dapat mengantarkan seseorang ke posisi strategis nasional melalui konsistensi, disiplin, dan keberanian menghadapi tantangan.
Kini, setelah puluhan tahun bergelut dengan ancaman terorisme dan kejahatan narkotika, tantangan terbesar Marthinus mungkin bukan lagi menangkap pelaku kejahatan. Tantangan terbesarnya adalah memastikan bahwa upaya menjaga keamanan dan masa depan generasi bangsa dapat berjalan beriringan dengan kepercayaan publik yang terus tumbuh. ***



