Sisi Daerah

Perempuan-Perempuan Pakel

Di Pakel, perempuan memiliki tempat penting. Mereka hadir bukan sebagai pelengkap. Mereka ikut berbicara, ikut menjaga posko, mengikuti perkembangan konflik, mendampingi keluarga, dan menjadi bagian dari perjuangan mempertahankan tanah yang selama ini menjadi sumber penghidupan.

23 Juli 20267 Kali Dilihat
Oleh: MG
Kerja kolektif yang dilakukan perempuan-perempuan di Pakel untuk meringankan pekerjaan dan mengurangi biaya pemanenan.

Kredit: Project Multatuli / Alvina NA

Jakarta. Sisipublik.id - Di tengah sengketa lahan yang berlangsung bertahun-tahun, perempuan-perempuan Pakel berdiri di garis depan. Mereka bukan sekadar saksi dari konflik agraria, tetapi menjadi bagian penting dari perjuangan mempertahankan tanah, rumah, dan masa depan keluarga. Di sebuah bangunan sederhana yang oleh warga disebut Posko Perjuangan, beberapa orang duduk melingkar. Bangunan semipermanen itu terbuka pada beberapa sisinya. Dari tempat mereka berkumpul, pandangan mengarah ke kebun yang selama bertahun-tahun menjadi sumber kehidupan sekaligus sumber sengketa. Percakapan malam itu berlangsung seperti pertemuan biasa.

Tidak ada meja panjang. Tidak ada pengeras suara. Hanya suara warga yang sesekali meninggi, lalu kembali merendah ketika seseorang mulai bercerita. Namun, bagi warga Pakel, pertemuan semacam itu bukan sekadar obrolan. Di tempat itulah mereka membicarakan tanah. Tentang kebun yang mereka rawat. Tentang lahan yang mereka yakini sebagai ruang hidup keluarga. Tentang ancaman kehilangan tanah. Tentang perjuangan yang belum selesai. Seorang perempuan yang mengenakan kerudung merah memecah percakapan malam itu. “Kalau misalnya terjadi lagi, menurut bapak-bapak dan ibu-ibu bagaimana?” ujar Warsinah dengan nada penuh semangat membuka pembicaraan kumpulan malam itu.

“Harus kita kawal,” jawab warga serentak menimpali pertanyaan Warsinah. Kata "kawal" mungkin terdengar sederhana. Tetapi bagi masyarakat Pakel, kata itu berarti kesediaan untuk tetap bertahan. Sebab bagi mereka, tanah bukan sekadar sebidang ruang yang bisa diukur dengan meter persegi. Tanah adalah tempat keluarga menggantungkan hidup. Di sana ada kebun, tanaman, hasil panen, rumah, ingatan, dan sejarah yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ketika tanah terancam hilang, yang dipertaruhkan bukan hanya kepemilikan, yang dipertaruhkan adalah masa depan.

Dalam banyak konflik agraria di Indonesia, perempuan kerap menjadi kelompok yang paling terdampak, tetapi sekaligus paling jarang terlihat. Ketika lahan kehilangan fungsi sebagai ruang produksi, perempuan biasanya ikut menanggung dampaknya. Penghasilan keluarga berkurang. Biaya hidup meningkat. Ketidakpastian masa depan anak-anak muncul. Bahkan pekerjaan domestik yang selama ini tidak terlihat ikut bertambah ketika keluarga menghadapi tekanan ekonomi dan sosial. Perempuan-perempuan tidak hanya berada di rumah ketika konflik berlangsung. Mereka hadir dalam pertemuan warga. Mereka mengikuti perkembangan perjuangan. Mereka menjaga ruang-ruang konsolidasi masyarakat.

Dalam posko, sejumlah perempuan dan laki-laki duduk bersama. Mereka bertukar informasi, membicarakan perkembangan situasi, dan menyusun langkah untuk menghadapi berbagai kemungkinan. Posko Perjuangan tetap menjadi ruang berkumpul. Di tempat sederhana itu, warga menyimpan banyak hal: cerita, kecemasan, strategi, bahkan ingatan tentang perjalanan panjang perjuangan mereka. Bagi perempuan-perempuan Pakel, posko bukan sekadar bangunan, namun menjadi ruang untuk saling menguatkan. Di tengah konflik yang panjang, rasa lelah adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Ada saat ketika seseorang merasa ingin berhenti. Ada saat ketika perjuangan terasa terlalu berat. Dalam ruang semacam itu, perempuan tidak lagi hanya diposisikan sebagai “istri petani” atau “anggota keluarga”. Perempuan Pakel juga memiliki suara sederajat dengan laki-laki, dan suara itu semakin penting ketika konflik berlangsung panjang. Sebab konflik agraria bukanlah persoalan yang selesai dalam satu malam. Ia bisa berlangsung bertahun-tahun, bahkan lintas generasi. Karena itu, perjuangan mempertahankan tanah membutuhkan ketahanan sosial yang panjang.

Mereka menjaga keluarga tetap bertahan ketika suami atau anggota keluarga lain harus menghadapi proses hukum atau aktivitas perjuangan. Mereka merawat anak-anak dalam situasi penuh ketidakpastian. Mereka menjaga komunikasi antarwarga. Dan ketika diperlukan, mereka berdiri bersama warga lain untuk menyuarakan tuntutan. Perjuangan mereka tidak selalu hadir dalam bentuk aksi besar. Kadang ia hadir dalam bentuk yang lebih sederhana: duduk bersama, mendengarkan, berdiskusi, dan memastikan bahwa perjuangan tidak berhenti. Itulah sebabnya perjuangan perempuan dalam konflik agraria tidak bisa dipisahkan dari perjuangan mempertahankan kehidupan. Mereka mempertahankan tanah karena ingin mempertahankan kehidupan keluarga. Mereka saling mengingatkan satu sama lain bahwa perjuangan belum selesai. Dalam situasi seperti itu, perempuan memainkan peran penting sebagai penjaga ketahanan komunitas.

Mereka membawa pengalaman rumah tangga ke dalam ruang perjuangan. Mereka memahami bagaimana konflik memengaruhi anak-anak, bagaimana ketidakpastian ekonomi dirasakan keluarga, dan bagaimana kehilangan tanah dapat mengubah seluruh struktur kehidupan masyarakat. Perspektif itu membuat perjuangan agraria memiliki wajah yang lebih manusiawi. Konflik tidak lagi hanya berbicara tentang hektare, ia berbicara tentang manusia, tentang seorang ibu yang khawatir terhadap masa depan anaknya, tentang keluarga yang tidak ingin kehilangan sumber penghidupan, tentang warga yang merasa tanah yang selama ini mereka rawat perlahan menjauh dari kehidupan mereka, dan tentang perempuan yang memilih untuk tidak diam. Perempuan-perempuan Pakel barangkali tidak memiliki kekuatan besar dalam pengertian kekuasaan formal. Tetapi mereka memiliki sesuatu yang sering kali jauh lebih menentukan dalam perjuangan panjang: keteguhan untuk bertahan. Bagi perempuan-perempuan Pakel, mempertahankan tanah bukan hanya tentang hari ini. Ia adalah cara untuk memastikan bahwa anak-anak mereka kelak masih memiliki tempat untuk pulang.

Artikel Terkait

Ketika Pohon Tumbang, Kota Kehilangan Jiwanya

Ketika Pohon Tumbang, Kota Kehilangan Jiwanya

Kota tidak mati ketika gedung-gedungnya runtuh. Kota mulai kehilangan kehidupan ketika pohon-pohonnya satu per satu menghilang

6 Agu 2026
Waspada! Dampak Bibit Siklon 94W, Kota Padang Dilanda Banjir Besar dan Arus Deras Hanyutkan Kendaraan

Waspada! Dampak Bibit Siklon 94W, Kota Padang Dilanda Banjir Besar dan Arus Deras Hanyutkan Kendaraan

Kota Padang, Sumatera Barat, mengalami bencana banjir besar pada Senin, 3 Agustus 2026, akibat hujan ekstrem berdurasi panjang (selama 6 jam berturut-turut). Bencana ini merendam ribuan rumah warga di sedikitnya 15 titik utama dan menyebabkan kendaraan hanyut terbawa derasnya arus air di jalan-jalan protokol.

5 Agu 2026
Heat Pump Buktikan Dekarbonisasi Industri Bisa Untungkan Bisnis, SETI Dorong Replikasi di Berbagai Sektor

Heat Pump Buktikan Dekarbonisasi Industri Bisa Untungkan Bisnis, SETI Dorong Replikasi di Berbagai Sektor

Teknologi heat pump membuktikan bahwa dekarbonisasi industri di Indonesia tidak lagi sebatas target jangka panjang, melainkan solusi yang dapat diterapkan saat ini. Melalui proyek Sustainable Energy Transition in Indonesia (SETI), implementasi heat pump menunjukkan bahwa efisiensi energi mampu berjalan beriringan dengan penghematan biaya produksi dan penurunan emisi karbon.

4 Agu 2026
Antara Slogan dan Lumpur, Menakar Harga Kedaultan di Jantung Krayan

Antara Slogan dan Lumpur, Menakar Harga Kedaultan di Jantung Krayan

Warga perbatasan dipaksa bertaruh nyawa di jalanan lumpur hanya untuk menyampaikan aspirasi. Sebuah ulasan kritis tentang kegagalan birokrasi, tingginya "Pajak Perbatasan", dan mengapa perbaikan jalan Krayan adalah harga mati bagi integritas bangsa.

3 Agu 2026